Selamat Hari Lahir Pancasila

“Kita Memakan Tambang, Tambang Memakan Kita”

Rizky Ramli

Sebagian lainnya menghadapi kesulitan beradaptasi dengan perubahan yang berlangsung sangat cepat. Industrialisasi menghasilkan peluang ekonomi baru, tetapi juga menciptakan bentuk ketimpangan baru.

Temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat lokal memang berusaha beradaptasi terhadap perubahan. Mereka bukan sekadar korban pembangunan.

Namun kemampuan adaptasi masyarakat tidak menghapus fakta bahwa industrialisasi juga menghasilkan tekanan sosial yang nyata terhadap komunitas lokal.

Dalam konteks sila kelima, persoalan ini menjadi penting karena keadilan sosial bukan hanya soal distribusi pendapatan. Keadilan sosial juga berbicara mengenai distribusi manfaat dan distribusi risiko pembangunan.

Hari ini, keuntungan ekonomi dari industri nikel dinikmati oleh banyak pihak, termasuk perusahaan, investor, pemerintah daerah, dan sebagian masyarakat yang memperoleh pekerjaan atau peluang usaha baru.

Namun pada saat yang sama, risiko lingkungan dan biaya sosial lebih banyak ditanggung oleh masyarakat yang hidup di sekitar kawasan industri.

Masyarakat menerima dua kenyataan sekaligus. Pendapatan meningkat, tetapi biaya hidup ikut meningkat. Ekonomi tumbuh, tetapi kualitas lingkungan menurun. Lapangan kerja bertambah, tetapi risiko kesehatan juga meningkat.

Di titik inilah tambang mulai memakan kita, Ia memakan ruang hidup, kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, dan sebagian masa depan ekologis yang seharusnya diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kesimpulan tulisan ini, bagi saya Hari Pancasila seharusnya tidak hanya menjadi perayaan serimoni terhadap dasar negara. Hari Pancasila harus menjadi momentum untuk berbenah lalu intervensi pembangunan agar benar-benar berjalan sesuai dengan cita-cita keadilan sosial yang dirumuskan para pendiri bangsa.

Selama manfaat ekonomi terus dinikmati segelintir orang, sementara biaya ekologis dan sosial semakin besar ditanggung masyarakat mayoritas Opini, maka keadilan sosial masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. (*)

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Komentar

Loading...