Selamat Hari Lahir Pancasila
“Kita Memakan Tambang, Tambang Memakan Kita”

Dalam satu dekade terakhir, semakin banyak anak muda dari Halmahera tengah seperti Weda, Lelilef, Gemaf, Kobe, Sagea, dan berbagai desa lain di Halmahera Tengah yang dapat melanjutkan pendidikan ke Ternate, Manado, Makassar, Yogyakarta, hingga Jawa. Begitu juga berlaku bagi daerah-daerah yang lain diluar dari halmahera tengah.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa industri nikel memang membuka mobilitas sosial baru bagi sebagian masyarakat.
Banyak keluarga yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan ekonomi kini memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperluas akses pendidikan bagi anak-anak mereka. Karena itu, melihat industri nikel hanya sebagai sumber masalah adalah cara pandang yang tidak utuh.
Industri ini telah menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperbesar perputaran ekonomi daerah, dan membuka peluang sosial yang sebelumnya sulit diperoleh sebagian warga Maluku Utara.
Di titik inilah kalimat “kita memakan tambang” menemukan maknanya. Sebagian masyarakat Maluku Utara memang hidup dari tambang.
Banyak keluarga menggantungkan biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, pembangunan rumah, bahkan masa depan ekonomi mereka pada industri nikel yang berkembang di Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Utara, dan Halmahera Selatan.
Namun persoalannya tidak berhenti di situ. Manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat berjalan beriringan dengan munculnya berbagai beban baru.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar