Selamat Hari Lahir Pancasila
“Kita Memakan Tambang, Tambang Memakan Kita”

Tambang Memakan Kita
Masalah terbesar pembangunan berbasis industri ekstraktif bukan terletak pada pertumbuhan ekonominya, melainkan pada biaya sosial dan ekologis yang sering tidak terlihat dalam laporan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat dihitung melalui angka investasi, ekspor, dan PDRB.
Namun kerusakan lingkungan, perubahan sosial, dan beban kesehatan sering kali tidak dihitung dalam laporan pertumbuhan. Padahal biaya-biaya itulah yang dalam jangka panjang harus ditanggung oleh masyarakat.
Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) dalam berbagai temuan yang dirilis sepanjang 2025 menyoroti dampak aktivitas pertambangan dan smelter nikel Harita Group di Pulau Obi, Halmahera Selatan.
Dalam laporan bertajuk hentikan Harita, JATAM menyebut adanya kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel yang berdampak terhadap kawasan pesisir, sumber daya alam, dan ruang hidup masyarakat.
Persoalan tersebut tidak lagi sekadar menjadi perdebatan aktivis lingkungan. Investigasi yang dilakukan oleh The Gecko Project bersama OCCRP, Deutsche Welle, dan The Guardian pada tahun 2025 menemukan dugaan pencemaran air di Desa Kawasi, Pulau Obi.
Berdasarkan dokumen internal perusahaan yang diperoleh tim investigasi, ditemukan indikasi kontaminasi kromium-6 pada sumber air masyarakat yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Paparankromium-6 diketahui berpotensi menyebabkan gangguan hati, ginjal, iritasi kulit, hingga meningkatkan risiko kanker.
Temuan-temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa biaya pembangunan tidak hanya dalam bentuk kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat berubah menjadi beban kesehatan masyarakat.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar