Industri dan Masa Depan Ilmu Sosial

Herman Oesman

Paradoksalitas

Di sinilah letak paradoks besar. Industri membutuhkan ilmu sosial untuk memahami perilaku konsumen, dinamika organisasi, konflik tenaga kerja, hingga dampak sosial dari teknologi. Dalam praktiknya, ilmu sosial acap dipinggirkan karena tidak dianggap menghasilkan nilai ekonomi langsung.

Padahal, dalam era digital, banyak perusahaan justru membutuhkan keahlian yang bersifat “human-centered”, seperti kemampuan komunikasi, analisis sosial, dan pemahaman budaya. Bahkan, pendekatan interdisipliner yang menggabungkan teknologi dan ilmu sosial menjadi semakin penting.

Konsep Society 5.0 menegaskan, bahwa teknologi harus berpusat pada manusia (human-centered society), bukan sebaliknya. Ini berarti bahwa ilmu sosial memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Rencana menutup program studi yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri dapat dipahami sebagai upaya rasionalisasi dalam sistem pendidikan. Tetapi, kebijakan ini berisiko menjadi reduktif jika hanya menggunakan indikator ekonomi semata.

Pendidikan tinggi tidak hanya memiliki fungsi ekonomi, tetapi juga fungsi sosial, budaya, dan kritis. Universitas bukan sekadar “pabrik tenaga kerja”, tetapi juga ruang refleksi dan produksi pengetahuan yang independen.

Bila program studi hanya dinilai berdasarkan daya serap pasar kerja, maka ilmu-ilmu yang bersifat kritis dan reflektif akan terancam hilang.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...