Sejarah Orang Arab di Ternate

Oleh: Jainul Yusup
(Pengajar di Program Studi Ilmu Sejarah, dan Wadek III Fakultas Ilmu Budaya Unkhair)
Ternate, adalah sebuah pulau kecil berapi di Kepulauan Maluku Utara, pernah menjadi episentrum perdagangan dunia. Sebagai salah satu sumber utama cengkih dan pala, Ternate menarik perhatian berbagai bangsa, mulai dari pedagang Nusantara, Tiongkok, hingga Eropa.
Namun, di antara berbagai gelombang kedatangan asing, keberadaan komunitas Arab memegang posisi unik. Berbeda dengan bangsa Eropa yang datang dengan motif penaklukan dan monopoli, kehadiran orang Arab di Ternate lebih bersifat organik, berakar pada penyebaran agama Islam dan jalinan perdagangan yang egaliter.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 28 April 2026
Tulisan ini akan menelusuri sejarah panjang kehadiran orang Arab di Ternate, peran mereka dalam membentuk identitas keagamaan kesultanan, pengaruh mereka dalam struktur sosial-ekonomi, serta bagaimana mereka akhirnya melebur menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Ternate.
Kehadiran orang Arab di Nusantara secara umum, dan Ternate secara khusus, didominasi oleh para migran dari Hadramaut, Yaman, yang dikenal sebagai kaum Hadrami.
Migrasi ini berlangsung dalam beberapa gelombang, namun jejak pengaruhnya mulai terasa signifikan sejak abad XIV dan XV seiring dengan menguatnya jalur perdagangan
Bagi para pedagang dan ulama Arab, Maluku Utara bukan sekadar tujuan ekonomi, melainkan juga medan dakwah. Gelar "Jazirah al-Mulk" (Kepulauan Raja-Raja) yang disematkan pada Maluku Utara merupakan bukti pengaruh terminologi Arab dalam memandang wilayah ini.
Di Ternate, legenda menyebutkan bahwa Islam masuk melalui pengaruh para pedagang muslim, di mana figur-figur keturunan Arab sering kali diidentikkan dengan pembawa cahaya iman kepada penguasa lokal (Kolano).
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar