Sejarah Orang Arab di Ternate

Salah satu titik balik penting adalah masa pemerintahan Kolano Marhum (abad XV), yang menurut tradisi lisan, mulai menerima ajaran Islam dari seorang saudagar bernama Syekh Mansur, meskipun historiografi modern masih mendebatkan detailnya.
Ingatan kolektif masyarakat Ternate menempatkan figur Arab sebagai katalisator transisi Ternate dari kerajaan bercorak lokal-animistik menjadi Kesultanan Islam yang berdaulat.
Di Ternate, orang Arab terutama mereka yang menyandang gelar Sayyid atau Syarif (keturunan Nabi Muhammad SAW), mendapat penghormatan yang sangat tinggi. Hal ini menciptakan simbiosis mutualisme antara kesultanan Ternate dan komunitas Arab.
Pertama, dalam bidang keagamaan, kaum Hadrami menjadi rujukan utama dalam hukum Islam (syariat) dan tasawuf. Mereka mengisi posisi-posisi penting dalam struktur keagamaan kesultanan, seperti menjadi Qadhi atau penasihat spiritual sultan.
Masjid Sultan Ternate, dengan tradisi uniknya, menjadi saksi bisu bagaimana ajaran Islam yang dibawa dan diperkuat oleh para ulama ini berakulturasi dengan adat "Adat se Atorang".
Kedua, keberadaan marga-marga (fam) Arab seperti Albaar, Alhaddar, AlKaff, Al Idrus dll, di Ternate bukan sekadar entitas asing. Banyak dari mereka yang menjalin ikatan pernikahan dengan keluarga bangsawan Ternate.
Pernikahan silang ini membuat identitas Arab di Ternate tidak bersifat eksklusif, melainkan inklusif. Seorang anak dari ibu bangsawan Ternate dan ayah seorang Sayyid seringkali menempati posisi sosial yang sangat strategis, menjadi jembatan antara kekuasaan politik lokal dan otoritas moral keagamaan.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar