Terjajah Infrastruktur: Catatan Pendidikan untuk Pemda Halut

Oleh: Iwan Imam
(Jurnalis malutpost.com)
Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Karena pendidikan adalah upaya membentuk manusia seutuhnya, membangun harapan, karakter, dan masa depan.
Sekolah semestinya menjadi jembatan yang menghubungkan anak-anak dengan kehidupan yang lebih baik. Namun, bagi sebagian anak di pelosok negeri, pendidikan harus diperjuangkan di tengah keterbatasan yang nyaris melumpuhkan mimpi mereka.
Realitas tersebut tampak jelas di Yayasan Pendidikan Kristen GMHI Kapa-Kapa, sebuah sekolah yang berada di Desa Kapa-Kapa, Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara.
Bertahun-tahun sejak berdiri, sekolah ini belum sepenuhnya merasakan perhatian dan bantuan yang memadai. Jumlah tenaga pengajar yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah peserta didik yang harus dilayani, sementara fasilitas pendidikan terus mengalami kemunduran akibat usia dan minimnya perawatan.
Perjalanan menuju desa ini bukan perkara mudah. Dari Kota Tobelo, jarak tempuh mencapai sekitar 90 kilometer. Setelah memasuki wilayah desa, perjalanan harus dilanjutkan dengan melewati sungai. Warga setempat menyediakan perahu rakitan dari bambu untuk menyeberang.
Alternatif lain adalah melintasi sungai menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat ketika cuaca memungkinkan dan air sungai tidak meluap akibat hujan. Kondisi geografis yang sulit inilah yang membuat akses pendidikan dan distribusi fasilitas menjadi terbatas.
Di desa ini, masyarakatnya sekitar 152 kepala keluarga, terdapat 80 anak yang menaruh harapan besar pada pendidikan di Yayasan GMHI Kapa-Kapa. Sayangnya, jumlah siswa itu tidak diimbangi dengan ketersediaan sarana belajar yang layak.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar