Terjajah Infrastruktur: Catatan Pendidikan untuk Pemda Halut

Iwan Imam

Meski demikian, keterbatasan tidak memadamkan semangat anak-anak desa untuk terus mengejar cita-cita. Mereka tetap datang ke sekolah dengan harapan sederhana: memperoleh pendidikan yang dapat mengubah masa depan.

Semangat itu terus dijaga oleh tujuh tenaga pengajar yang mengabdikan diri di sekolah tersebut, terdiri dari lima guru Aparatur Sipil Negara (ASN) dan dua guru honorer. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap berupaya memastikan proses belajar mengajar terus berjalan.

Pada 16 Mei 2026, menjadi pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam bagi penulis ketika mengunjungi sekolah itu secara langsung. Bangunan sekolah berbentuk huruf L tampak rapuh dimakan usia, seperti tubuh renta yang perlahan kehilangan kekuatannya.

Sebagian plafon bangunan telah terlepas, jendela-jendela rusak, dan jumlah meja serta kursi sangat terbatas. Dalam satu meja belajar, tiga hingga empat siswa harus duduk bersama. Bahkan di beberapa ruang kelas, siswa terpaksa belajar tanpa meja dan kursi, duduk di lantai selama proses pembelajaran berlangsung.

Kondisi perpustakaan pun tidak jauh berbeda. Ruangan yang seharusnya menjadi jendela dunia bagi anak-anak justru minim koleksi buku.

Buku bacaan, buku pegangan siswa, maupun buku ajar guru hampir tidak tersedia, padahal enam lemari buku telah disiapkan di ruangan tersebut.

Keterbatasan ini tidak hanya menciptakan ketidaknyamanan dalam belajar, tetapi juga membatasi ruang anak-anak untuk mengembangkan kreativitas, daya pikir, dan kemandirian di masa depan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...