Sejarah Orang Arab di Ternate

Di Ternate, sulit untuk menarik garis tegas antara "Arab" dan "Ternate asli" pada generasi-generasi setelahnya. Proses hibriditas ini terjadi melalui beberapa aspek:
Bahasa: Meskipun bahasa Arab dipelajari untuk tujuan ibadah, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat keturunan Arab menggunakan bahasa Melayu Ternate.
Sebaliknya, bahasa Ternate pun menyerap banyak kosa kata Arab dalam konteks ketatanegaraan, hukum, dan filsafat.
Kuliner: Pengaruh Arab sangat terasa dalam khazanah kuliner Ternate. Penggunaan rempah yang kaya, masakan daging kambing, hingga kue-kue seperti nasi kebuli atau berbagai olahan roti, telah menjadi bagian dari hidangan pesta atau perayaan adat di Ternate.
Kesenian: Tradisi Samrah dan Zapin merupakan contoh nyata bagaimana ritme Timur Tengah bertemu dengan estetika lokal. Shalawat dan puji-pujian kepada Nabi yang dilantunkan dengan nada khas Maluku menunjukkan sebuah harmoni budaya yang matang.
Selama masa penjajahan Belanda, komunitas Arab di Ternate sering kali berada dalam posisi yang sulit. Pemerintah kolonial menerapkan politik segregasi (pemisahan) pemukiman berdasarkan etnis.
Namun, banyak tokoh keturunan Arab di Ternate yang justru terlibat dalam gerakan intelektual dan keagamaan yang menentang penjajahan.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar