Ekoteologi dalam Filsafat Jou Se Ngofa Ngare

Berdiri di hadapan Tuhan yang secara filsafat dia di sebut das Umgreifende yaitu sesuatu yang sangat besar yang meliputi segalanya, yang berasal dari atas Yang Maha Meliputi ini, selalu berbicara kepada kita, tidak secara langsung, tetapi melalui fenomena alam.
Pada ruang Existens atau ruang hakekat keberadaan sebagaimana terjabarkan dengan makna-maknanya dalam filsafat Jou Se Ngofa Ngare bahwa di alam exestens atau alam “anta baranta”, alam “ghaibul ghaib” yang terjadi duluan adalah Tuhan dan Hamba.
Sehingga relasi Tuhan dan hamba atau Jou se-Ngofa Ngare dalam alam anta baranta adalah relasi pengakuan ngofa ngare kepada jou yang dalam perspektif Islam pengakuan yang bunyinya “alastubirabbikum qaaluu bala syhidna” Jou bertanya pada ngofa ngare apakah Aku ini adalah Tuhanmu, ngofa Ngare menjawab benar Engkau adalah Tuhan kami.
Setelah pengakuan hamba akan eksistensi ke-Tuhanan, Tuhan kemudian mengabarkan proses penciptaan manusia dimuka bumi dengan tujuan mengelolah dan memakmurkan bumi.
Pada konteks ini sesungguhnya relasi manusia dan alam “Hablum Minal alam” adalah pada posisi yang seimbang, setara, tidak berwujud eksploitatif yang oleh Toshihiko Izutzu menjelaskan alam raya adalah “Tulisan Rahasia Tuhan.
Yang sangat besar, alam merupakan lambang, simbol dan sandi dalam narasi ini Allah kemudian menyebut dirinya sebagai al-Muhit berbicara pada kita secara tidak langsung melalui penciptaan alam raya dengan segala isinya.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar