Ekoteologi dalam Filsafat Jou Se Ngofa Ngare

Salim Taib

Jou se ngofa ngare yang dalam runutan pengertian filosofis itu dapat di defenisikan kembali dalam suatu ruang kekosongan sebelum alam raya dan seluruh isinya diciptakan yang Ada hanyalah yang Ada dan disaksikan oleh yang keberadaannya diadakan oleh yang Maha Ada, jou adalah yang Ada dan Ngofa Ngare adalah yang di adakan oleh jou yang Maha Ada.

Jou se Ngofa Ngare adalah filsafat transenden, idea tertinggi sekaligus pandangan hidup universal orang-orang Maluku Kie Raha yang harus dibumikan terutama dalam relasi manusia dan alam raya sehingga pengelolaaan alam raya dan lingkungan benar-benar relasi yang saling keterkaitan.

Hal ini sebagaimana Lawrence E.Sullivan profesor bidang kajian sejarah agama-agama Universitas Cambridge, menyatakan bahwa secara ekologis kehidupan bersama terkait erat dengan semesta dan secara orisinil tidak bisa dipisahkan.

Pernyataan Sulivian ini menjadi fondasi teoritis yang memadai untuk menunjukan bahwa pandangan dan laku ekologis manusia terdapat andil agama yang mengkonstruksinya.

Agama akan selalu menghadirkan paradigma kosmologis dan pada akhirnya menuntun pola perilaku serta cara interaksinya terhadap alam.

Relasi Jou-Se Ngofa Ngare dan Alam

Ahmad Sahida, dalam God, Man and Nature (2018:187), menjelaskan bahwa kehidupan manusia di dunia ini dengan beberapa tingkatan yang berbeda, sehingga apabila kita meninggalkan tingkatan yang normal sehari-hari maka akal sehat menyatakan bahwa benda-benda, tumbu-tumbuhan.

Pepohonan yang berada di alam tampak hanyalah sebuah benda-benda, namun jika kita berada pada ruang Existens maka kita menemukan diri berada di dunia asing.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...