Ekoteologi dalam Filsafat Jou Se Ngofa Ngare

Karena itu menurut Toshihiko Izutzu alam yang di hamparkan Allah merupakan ayat Allah dan sifat simboliknya hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang memiliki akal, orang yang bisa berfikir (tafakkur) dalam arti yang sebenarnya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Murtadha Muthahari dalam Man and Universe (2002:49) bahwa alam adalah satu unit yang hidup, dan kedudukan manusia dan alam sama-sama sebagai makhluk.
Walaupun manusia diberi legitimasi oleh Tuhan sebagai khalifah fil ard mengelolah alam untuk kemakmuran bersama dengan perkataan lain alam diciptakan oleh Allah untuk manusia menemukan dan mewujudkan kemanusiaannya.
Sehingga nalar keserakahan berada pada titik terendah, manusia akan mengendalikan diri bahwa kehidupan ada saling terkait dengan mahluk lain, kesadaran ekoteologi manusia dengan menjaga serta memelihara lingkungan adalah bagian dari konstruksi keyakinan keagamaan.
Pada konteks ini filsafat jou sengofa ngare menemukn relevansinya dengan konsepsi ekoteologi, dimana realitas kehidupan yang menjadi tradisi dalam tata cara berkebun para leluhur yang diwariskan turun-temurun.
Hingga kini ketika pembongkaran lahan hutan untuk dijadikan kebun didahului dengan “siloloa” karena alam adalah unit yang hidup, oleh Toshihiko Izutsu menyebut Tulisan rahasiaTuhan.
Maka siloloa adalah wujud menjaga relasi bahwa alam dengan berbagai kehidupan di dalamnya harus diperlakukan dengan baik, ada mahluk yang mendiami, ada pohon tempat hunian mahluk halus, ada jin, ada moro, ada meki semua itu bagian dari mahluk yang menghuni alam raya atau hutan.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar