PERAHU SARUMA Sebagai Jembatan Regulasi, Hilirisasi dan Kesejahteraan

Halmahera Selatan Menuju Kabupaten Agromaritim

Achmad Dijanto Sajuti

Itulah mengapa Halmahera Selatan menuju Kabupaten Agromaritim tidak seharusnya dipahami sebagai proyek satu dinas atau dua periode kepemimpinan. Ia adalah agenda lintas sektor dan lintas generasi.

Jika berhasil dibangun, ia dapat mengubah cara ekonomi daerah bekerja: dari menjual bahan mentah menjadi menghasilkan nilai tambah; dari rantai pasok yang terputus menjadi terhubung; dari petani dan nelayan yang berjalan sendiri menjadi bagian dari ekosistem pasar; dari regulasi reaktif menjadi regulasi yang disaring berdasarkan kebutuhan dan kualitas.

Kita Tidak Ditugaskan untuk Sekadar Gagah di Dermaga

Ada filosofi tentang kapal yang sangat relevan bagi Bumi Saruma: momen paling indah dari sebuah kapal adalah ketika ia berlabuh di dermaga; ia tampak gagah dan aman. Namun kapal tidak dibangun untuk selamanya ditambatkan di dermaga. Kapal dibangun untuk menghadapi badai dan membelah lautan.

Kita pun mungkin terlihat gagah ketika berada di ruang rapat, di balik meja jabatan, di ruang-ruang seremoni dan kebijakan. Tetapi tugas kita bukan untuk terlihat gagah di ruangan. Tugas kita adalah menjawab gelombang yang sedang dihadapi masyarakat.

Gelombang ketidakpastian harga. Gelombang mahalnya logistik. Gelombang lemahnya hilirisasi. Gelombang keterbatasan pasar. Gelombang pengangguran. Gelombang ketimpangan antar wilayah. Dan gelombang regulasi yang kadang hadir terlambat setelah masalah membesar.

Karena itu, tugas kita adalah mengarungi samudra pengabdian untuk membawa masyarakat menuju pelabuhan kesejahteraan. Dalam perjalanan itu, regulasi adalah kompas, hilirisasi adalah mesin, konektivitas maritim adalah jalur, Perumda dan pelaku ekonomi adalah penggerak, sedangkan kesejahteraan masyarakat adalah tujuan.

Baca Halaman Selanjuntya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Komentar

Loading...