Masa Depan Pohon Pala di Tengah Lajuhnya Infestasi Pertambangan

El Dinoh

Oleh: El Dinoh
(Liga Mahasiswa Indonesia Demokrasi (LMID))

Warisan Peradaban yang Terancam

Jauh sebelum manusia di Halmahera mengenal tambang, mereka telah hidup berdampingan dengan pohon pala. Seluruh aktivitas harian dihabiskan di kebun pala—mulai dari menanam hingga membersihkan lahan. Tradisi ini telah berlangsung amat lama dan menyatu dengan napas kehidupan masyarakat Halmahera.

Bagi mereka, sehari saja tidak pergi ke kebun rasanya ada yang hilang. Kebun pala bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan juga "apotek gratis" yang meredakan stres dan memberikan dampak positif bagi jiwa.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 13 Agustus 2026

Namun, waktu berlalu begitu cepat. Pohon-pohon pala mulai lenyap dan mati. Kehancuran ini bukan terjadi akibat hukum alam, melainkan akibat mesin-mesin pengeruk berwujud ekskavator.

Pohon pala digantikan oleh besi berkarat yang membawa penyakit sosial dan lingkungan. Ketika negara mulai mendorong Proyek Strategis Nasional (PSN), hutan Halmahera Tengah—tempat pala tumbuh subur—harus dikorbankan demi apa yang dinamakan negara sebagai "kemajuan". Jika negara menyebut ini sebagai kemajuan, bagi kami ini adalah pembunuhan sistematis terhadap ekonomi petani pala.

Dalam sejarah Ternate, Tidore, dan Halmahera, terdapat pohon pala yang usianya bahkan lebih tua dari peradaban manusia modern. Kulitnya cokelat, daunnya hijau mengkilap, dan buahnya yang berwarna kuning membungkus biji bernilai tinggi—biji yang dulu pernah membuat bangsa-bangsa dunia berperang.

Namun, di negeri rempah ini, izin tambang kini dianggap lebih sakral dari pada akar peradaban. Negara terkesan lebih tunduk pada korporasi tambang ketimbang suara rakyatnya sendiri.

"Pohon pala bukan sekadar komoditas, ia adalah identitas peradaban Halmahera."

Kita sering mengkhotbahkan kisah kejayaan pala yang pernah mengguncang Eropa. Namun di saat yang sama, kita menjual bukit-bukit tempat pala tumbuh kepada perusahaan tambang. Hari ini, negara memperlakukan pala seperti sampah:

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...