Masa Depan Pohon Pala di Tengah Lajuhnya Infestasi Pertambangan

- Izin Usaha Pertambangan (IUP) terbit jauh lebih cepat dibanding sertifikat tanah petani.
- AMDAL disetujui meski sungai-sungai diprediksi akan mati.
- Konsultasi publik sekadar formalitas di atas kertas.
- Protes warga dicap sebagai penghambat investasi.
Pilihan Politik dan Pengorbanan Ruang Hidup
Ini bukanlah bentuk kelalaian, melainkan pilihan politik. Negara tampak lebih memilih pendapatan jangka pendek dari royalti tambang selama 5–10 tahun ketimbang keberlanjutan hidup petani pala hingga 100 tahun ke depan.
Negara lebih takut kehilangan investor daripada kehilangan hutan, serta lebih takut dimasukkan ke dalam daftar hitam korporasi daripada diingat sebagai pengkhianat warisan leluhur. Pengkhianatan ruang hidup ini kerap dibungkus rapi melalui Peraturan Daerah (Perda).
Jika dahulu penjajah Belanda membawa meriam dan kontrak monopoli, kini perusahaan datang membawa presentasi PowerPoint dan janji manis Corporate Social Responsibility (CSR). Hasilnya tetap sama: tanah dirampas, rakyat dipinggirkan, dan pohon pala mati.
Pahitnya lagi, dari penyerapan tenaga kerja, sekitar 80% warga lokal hanya diserap sebagai pekerja kasar, seperti petugas keamanan atau tenaga pembersih. Pendapatan Asli Daerah (PAD) masuk ke kas pemerintah, namun habis untuk biaya konsultan dan perjalanan dinas, sementara jalan-jalan di desa tetap dibiarkan rusak dan berlubang.
Masyarakat kerap diimingi janji kesejahteraan setiap menjelang pergantian kepemimpinan. Namun, petani pala terus kehilangan tanahnya dan nelayan kehilangan lautnya. Pencemaran sungai menjadi bukti nyata di tempat-tempat seperti:
- Desa Sagea
- Desa Wale
- Desa Lelilef
Data Realita: Krisis Lahan di Halmahera Tengah
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2015 Halmahera Tengah masih memiliki perkebunan rakyat berupa lahan pala seluas 11.090,50 hektare. Namun, seiring ekspansi pertambangan nikel, tutupan hutan dan kebun masyarakat tergerus drastis. Lahan tanaman pangan bahkan menyusut tajam dari 185.826 hektare hingga nyaris tidak tersisa.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar