Bangsawan Berpikir

Tidak memiliki garis keturunan aristokrat. Tetapi melalui proses belajar dan perdebatan gagasan, mereka membentuk sesuatu yang lebih penting, yaitu Martabat intelektual.
Dan dari martabat intelektual itulah lahir apa yang dapat disebut sebagai bangsawan berpikir dalam republik modern.
Bangsa Ini Tidak Kekurangan Bangsawan Berpikir, Tetapi
Jika kaderisasi HMI memang melahirkan begitu banyak bangsawan berpikir, mengapa kehidupan politik kita masih sering dipenuhi pragmatisme kekuasaan?
Mengapa sebagian alumni yang pernah ditempa dalam tradisi intelektual justru terjebak dalam politik transaksional, korupsi, atau kompromi kekuasaan yang dangkal? Pertanyaan ini tentu tidak mudah dijawab.
Namun mungkin jawabannya sederhana, berpikir adalah satu hal, tetapi mempertahankan integritas pikiran di dalam kekuasaan adalah hal yang jauh lebih sulit.
Sejarah menunjukkan bahwa tidak semua orang yang pernah belajar berpikir akan tetap setia pada pikirannya. Sebagian akan tetap menjaga martabat intelektualnya, sebagian lain mungkin menyerah pada godaan kekuasaan.
Di titik inilah makna bangsawan berpikir sebenarnya diuji. Ia bukan sekadar gelar intelektual yang lahir dari ruang kaderisasi, Ia adalah tanggung jawab moral.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar