Bangsawan Berpikir

Rizky Ramli

Di sinilah muncul apa yang sering disebut sebagai mobilitas sosial terbuka, sebuah kondisi di mana seseorang dapat naik dalam struktur sosial melalui usaha, pengetahuan, dan kerja intelektual.

Dalam konteks seperti ini, bangsawan tidak lagi harus dipahami sebagai mereka yang memiliki darah biru. Bangsawan bisa juga dipahami sebagai mereka yang memiliki kapasitas intelektual yang membedakan dirinya dari yang lain.

Filsuf seperti Plato sebenarnya telah membayangkan gagasan semacam ini sejak lebih dari dua ribu tahun lalu. Dalam karyanya The Republic, Plato memperkenalkan konsep philosopher king, yaitu pemimpin negara yang berasal dari kalangan filsuf (Plato, 1992).

Menurut Plato, negara tidak seharusnya dipimpin oleh mereka yang sekadar memiliki kekuatan atau popularitas. Negara seharusnya dipimpin oleh orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir rasional, kebijaksanaan moral, serta pengetahuan tentang apa yang baik bagi masyarakat.

Dengan kata lain, Plato membayangkan sebuah bentuk aristokrasi yang berbeda, aristokrasi intelektual. Bukan aristokrasi darah, bukan aristokrasi kekayaan, tetapi aristokrasi pikiran.

Dalam masyarakat modern hari ini, gagasan Plato itu menemukan relevansinya kembali. Ketika pendidikan semakin terbuka, ketika universitas menjadi ruang pembentukan pemikiran, maka siapa pun sebenarnya memiliki peluang untuk menjadi bagian dari aristokrasi intelektual tersebut.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Komentar

Loading...