Catatan
MAHARDIKA

Bila merdeka berarti mahardika, maka negara merdeka mestinya menghasilkan manusia yang makin berilmu. Pendidikan harus menjadi jalan pembebasan, bukan sekadar prosedur administratif.
Anak-anak yang lahir di pelosok pulau, pesisir, desa, kawasan pertambangan, maupun wilayah terpencil harus memiliki kesempatan yang sama untuk memeroleh pengetahuan.
Bila merdeka berarti berbudi luhur, maka kekuasaan harus dibangun di atas etika. Jabatan tidak boleh menjadi jalan memperkaya diri. Kekuasaan bukan hak untuk memerintah sesuka hati, melainkan amanah untuk menghadirkan keadilan.
Bila merdeka berarti sejahtera, maka pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya dibaca dari angka statistik. Kemajuan harus terasa di meja makan keluarga, di sekolah anak-anak, di rumah nelayan, di kebun petani, di kampung masyarakat adat, dan di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi pemasok sumber daya bagi pusat-pusat kekuasaan.
Bila merdeka berarti bebas dari ikatan keduniawian, maka manusia tidak boleh diperbudak oleh keserakahan. Kekayaan harus menjadi sarana kehidupan, bukan alasan untuk menguasai kehidupan orang lain.
Anthony Reid (1998) sekali lagi menegasan, terma merdeka kemudian memperoleh bobot politik yang sangat kuat dalam perkembangan nasionalisme di Asia Tenggara.
Ia bukan lagi sekadar istilah yang berhubungan dengan keadaan seseorang, tetapi menjadi cita-cita kolektif untuk membebaskan masyarakat dari kolonialisme dan membangun kehidupan yang menentukan nasibnya sendiri.
Memperingati kemerdekaan eloknya tidak berhenti pada bendera, upacara, lomba, pidato, dan pekik “merdeka”.
Kemerdekaan merupakan keadaan ketika manusia memiliki pengetahuan untuk memahami hidup, kebijaksanaan untuk menentukan pilihan, keberanian untuk mempertahankan martabat, kemampuan berdiri sendiri, dan keluhuran budi untuk tidak menindas sesamanya.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar