Catatan
MAHARDIKA

Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana tetapi memiliki ilmu, kebijaksanaan, keberanian moral, dan kemampuan membebaskan dirinya dari keserakahan justru dapat disebut lebih dekat dengan hakikat mahardika.
Jejak kata ini penting dalam sejarah Nusantara. Terma maharddhika telah dikenal dalam lingkungan kebudayaan Melayu dan Jawa sejak masa lampau.
Dijelaskan Anthony Reid (1998), terma Sanskerta tersebut telah digunakan dalam teks-teks Jawa sejak sekitar abad ke-10. Bentuk-bentuk yang berkerabat dalam peejalanannya, seperti mardika, merdeka, dan maharlika muncul di berbagai wilayah Asia Tenggara.
Laura Lee Junker mencatat, maharlika dalam konteks Filipina kemungkinan berasal dari Sanskerta, maharddhika, yang mengandung pengertian tentang kekayaan, kebijaksanaan, atau kemampuan.
Sementara dalam konteks masyarakat Nusantara dan Asia Tenggara, menurut Junker, kata itu kemudian mengalami metamorfosis perjalanan makna dan bentuk yang panjang. (Junker, 1999).
Perjalanan tersebut memperlihatkan, bahasa tidak pernah benar-benar diam. Kata bergerak mengikuti sejarah manusia. Ia mengalami perubahan bunyi, perubahan bentuk, bahkan perubahan makna. Dari maharddhika kemudian, muncul berbagai bentuk turunan dan kerabat seperti mardika, merdeka, dan maharlika.
Dalam perjalanan sejarahnya, merdeka akhirnya memeroleh makna politik yang sangat kuat. Bebas dari perhambaan, penjajahan, dan segala bentuk keterikatan yang menghilangkan martabat manusia. Tetapi, ada satu hal penting yang acap kita lupakan. Merdeka tidak cukup hanya dengan mengganti penguasa.
Kemerdekaan politik dapat diperoleh melalui proklamasi. Tetapi kemerdekaan manusia harus terus diperjuangkan setiap hari. Sebab, seseorang dapat hidup dalam negara merdeka tetapi tetap terbelenggu oleh kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, ketakutan, diskriminasi, dan ketidakberdayaan. Di sinilah, konsep mahardika menjadi relevan untuk membaca Indonesia hari ini.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar