Menakar Retaknya Demokrasi Kita Lewat Lensa Levitsky dan Ziblatt

Kematian yang Sunyi

Fadlum Marsaoly

Di bawah bayang-bayang oligarki ini, partai politik tidak lebih dari kendaraan sewaan, dan pemilu hanyalah sirkus lima tahunan untuk melegitimasi kepentingan ekonomi para elite di balik layar.

Penutup: Menolak Apatis Sebelum Demokrasi Benar-Benar Mati

Pada akhirnya, esai ini dan buku "Bagaimana Demokrasi Mati" hadir bukan untuk menyebarkan pesimisme akut atau membuat kita menyerah pada keadaan. Sebaliknya, ia adalah alarm peringatan yang berbunyi sangat nyaring di telinga kita semua.

Demokrasi bukanlah sesuatu yang bersifat abadi atau terberi (given) begitu saja sejak proklamasi kemerdekaan atau momentum Reformasi 1998. Ia adalah sebuah proses dinamis, kesepakatan sosial yang sangat rapuh, dan harus terus-menerus dirawat serta dipertahankan dengan kewaspadaan serta keberanian warga negaranya.

Melihat fakta lapangan di Indonesia hari ini, kita diajak untuk menyadari bahwa jika kita memilih untuk bersikap apatis, memaklumi pelanggaran etika demi kenyamanan sesaat, dan membiarkan hukum terus diperalat oleh para penguasa, maka kita sebenarnya sedang ikut menulis bab penutup dari matinya demokrasi di negeri ini.

Demokrasi kita tidak akan mati dalam semalam karena letusan senjata; ia sedang mati perlahan secara sunyi, di tengah tepuk tangan riuh dan kepasrahan kita sebagai warga negara.(*)

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...