Mencari Keadilan Melalui Tagar(#): Perlawanan Publik di Era Digital

Batas dan Resiko Keadilan Melalui Tagar
Meskipun memiliki kekuatan, popularitas tagar tidak secara otomatis menghasilkan keadilan. Algoritma platform menentukan konten yang mendapatkan perhatian. Akibatnya, kepentingan publik sering bercampur dengan logika popularitas, kontroversi, keterlibatan pengguna, dan kepentingan ekonomi perusahaan platform.
Persoalan hukum yang kompleks juga kerap dipadatkan menjadi slogan sederhana. Konteks peristiwa, posisi korban, alat bukti, tahapan penyelidikan, perlindungan identitas, dan asas praduga tidak bersalah dapat terabaikan.
Aktivisme tagar bahkan dapat berubah menjadi persekusi digital ketika pengguna menyebarkan identitas, foto, alamat, atau tuduhan yang belum terbukti.
Aktivisme tagar juga dikritik sebagai slacktivism, yaitu partisipasi berbiaya rendah yang berhenti pada tindakan menyukai, membagikan, atau menulis slogan tanpa tindakan lanjutan.
Selain itu, kesenjangan digital menyebabkan tidak semua korban mempunyai akses, kemampuan komunikasi, dan jaringan yang sama untuk membuat kasusnya viral.
Logika “no viral, no justice” menjadi berbahaya apabila lembaga hukum hanya bergerak setelah memperoleh tekanan media sosial. Keadilan semestinya diberikan berdasarkan hak setiap warga negara, bukti, dan prosedur hukum yang adil, bukan berdasarkan jumlah tayangan, komentar, atau posisi suatu tagar dalam daftar tren.
Popularitas media sosial tidak selalu menghasilkan perubahan politik, sebuah isu dapat menjadi viral hari ini, dan dapat dilupakan ketika isu baru muncul kembali. Ruang publik berbasis tagar tidak selalu menghasilkan dialog yang sehat karena juga dapat dipenuhi konflik, ujaran kebencian, polarisasi, dan disinformasi.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar