Mencari Keadilan Melalui Tagar(#): Perlawanan Publik di Era Digital

Karena itu, tagar seperti #MeToo, #BlackLivesMatter, dan berbagai tagar berawalan #JusticeFor dapat menghubungkan pengalaman personal dengan persoalan sosial yang lebih struktural.
Aktivisme digital juga dapat membantu kelompok marginal membangun ruang publik alternatif untuk menentang narasi dominan dan menghadirkan pengalaman yang sebelumnya tidak mendapatkan tempat dalam pemberitaan.
Tagar juga membentuk apa yang disebut Papacharissi sebagai affective publics, yakni publik yang terhubung melalui cerita dan ekspresi emosi seperti kemarahan, kesedihan, ketakutan, simpati, dan harapan.
Dalam ruang digital, emosi bukan sekadar respons individual, tetapi dapat menjadi energi komunikatif yang memperkuat solidaritas dan mendorong keterlibatan masyarakat.
Namun, komunikasi yang sangat emosional juga memiliki risiko. Informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dengan cepat, sementara tekanan publik dapat berubah menjadi penghakiman digital.
Oleh sebab itu, solidaritas melalui tagar tetap harus mempertimbangkan akurasi informasi, perlindungan korban, asas praduga tidak bersalah, dan etika komunikasi.
Tagar dalam Konteks Indonesia
Dalam konteks Indonesia, #PercumaLaporPolisi menunjukkan bagaimana tagar dapat menjadi saluran kritik terhadap pengalaman masyarakat dalam mengakses keadilan.
Tagar tersebut menguat pada Oktober 2021 setelah munculnya pemberitaan mengenai penanganan dugaan kekerasan seksual terhadap tiga anak di Luwu Timur.
Setelah kasus tersebut menjadi viral, tagar itu berkembang menjadi ruang bagi masyarakat untuk membagikan pengalaman mengenai laporan hukum yang dianggap tidak ditangani secara memadai.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar