Ekologi Konstruktif: Mengurai Kekerasan Lingkungan di Maluku Utara

Paradoks itu sesungguhnya tidak hanya terjadi di Maluku Utara, tetapi merupakan bagian dari siklus ekonomi global bekerja. Ketika dunia mulai meninggalkan bahan bakar fosil dan berlomba membangun kendaraan listrik, permintaan terhadap nikel meningkat drastis.
Mineral yang selama ratusan tahun dipandang sebagai komoditas tambang, kini dipromosikan sebagai fondasi transisi energi berkelanjutan.
Efek yang ditimbulkan dari transisi energi ini sangat kuat. Negara maju dan perusahaan global berlomba-lomba mengamankan rantai pasok nikel untuk keperluan baterai, sementara negara penghasil mineral didorong mempercepat ekstraksi sebesar-besarnya.
Dalam narasi global, Maluku Utara tidak lagi sekadar gugusan pulau di timur Indonesia yang indah. Provinsi yang katanya paling bahagia, bertransformasi menjadi simpul penting dalam peta geopolitik energi abad ke-21.
Di sinilah problem ini mulai menemukan wujudnya. Dunia berbicara tentang masa depan hijau, tetapi jalan menuju masa depan dibangun atas kehancuran keanekaragaman hayati dan kearifan masyarakat lokal.
Semakin besar ambisi global menurunkan emisi karbon, makin besar pula luka yang di tanggung Halmahera dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Dengan kata lain, krisis iklim tidak benar-benar menghilang.
Ia bergeser, berpindah dari pusat-pusat kota yang padat penduduk ke lokasi pusat lumbung mineral berada. Halmahera, Obi, dan pulau-pulau lain di Maluku Utara kini memikul sebagian dari beban transisi tersebut.
Ketika keputusan pemanfaatan hutan, pesisir, dan ruang hidup semakin ditentukan oleh kebutuhan pasar global, masyarakat lokal tidak lagi menjadi penentu atas masa depan lingkungan yang mereka huni.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar