Ekologi Konstruktif: Mengurai Kekerasan Lingkungan di Maluku Utara

Rifal Abdullah

Ia mengendap dalam sedimentasi sungai, hilangnya tutupan hutan, debu dan asap smelter yang mencemari udara, kebun yang sulit diakses, atau menurunnya produktivitas hasil tangkapan.

Di Maluku Utara, kekerasan semacam itu sulit dipisahkan dari laju industrialisasi yang berlangsung sangat cepat. Dalam waktu kurang dari satu dekade, kawasan seperti Weda di Halmahera Tengah berubah dari desa berbasis pertanian menjadi pusat pengolahan nikel terbesar di Indonesia.

Di Pulau Obi, aktivitas pertambangan dan pemurnian mineral mengubah lanskap yang awalnya didominasi hutan tropis dan wilayah pesisir. Desa Kawasi yang dekat dengan smelter pengolahah milik Harita Grup, sebagian masyarakatnya mulai di relokasi ke pemukiman baru karena kondisi desa tak lagi layak.

Segenap perubahan tersebut memang menghadirkan infrastruktur baru, investasi, dan lapangan kerja. Namun pada saat yang sama, berbagai laporan riset dari Jatam (2025), Walhi (2024), Nexus3 Foundation dan Universitas Tadulako (2025), AJI Ternate (2025).

Dan kesaksian warga menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap kualitas lingkungan—sedimentasi perairan, krisis air bersih, paparan logam berat, meningkatnya penyakit baru, konflik lahan, hingga menyusutnya ruang hidup masyarakat di sekitar kawasan industri menjadi tak terhindar.

Tetapi membaca situasi tersebut hanya sebagai dampak pertambangan berarti melihat persoalan dari permukaan saja. Di balik perubahan bentang alam terdapat cara kerja ekonomi-politik yang jauh lebih ruwet.

Ahli geografi Marxis, David Harvey (2004) menyebut proses tersebut sebagai accumulation by dispossession, yakni akumulasi modal dari kapitalis-noliberal melalui perampasan ruang dan sumber daya yang semula menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lokal.

Eksploitasi ruang itu tidak selalu berlangsung melalui pemaksaan secara terang-terangan, melainkan melalui pengesahan kebijakan yang tertutup, perbitan izin sewenang-wenang, pengaturan tata ruang sepihak, atau narasi pembangunan yang seolah-olah wajar dan harus diterima.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8

Komentar

Loading...