Ekologi Konstruktif: Mengurai Kekerasan Lingkungan di Maluku Utara

Olehnya, krisis lingkungan bukan sekedar persoalan alam yang rusak, melainkan juga persoalan bagaimana risiko didistribusikan secara tidak adil.
Kekerasan ekologis bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan hasil dari pilihan-pilihan politik dan ekonomi yang terus direproduksi atas nama kemajuan.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi apakah pembangunan diperlukan, melainkan pembangunan seperti apa yang mampu menghasilkan kemakmuran tanpa terlebih dahulu mengorbankan ruang hidup sebagai syarat utama keberlangsungan masyarakat dan lingkungan.
Ekologi Konstruktif; Sebuah Tinjauan
Barangkali, kesalahan terbesar pembangunan modern bukan terletak pada keberaniannya mengeksploitasi alam, melainkan pada keyakinannya bahwa manusia berada di luar alam.
Sejak revolusi industry di negara barat, kemajuan diukur melalui kemampuan menaklukkan alam—gunung dipotong, sungai dibendung, hutan dibuka, laut direklamasi, dan perut bumi dikeruk sedalam mungkin.
Dasar dari pemikiran ini adalah pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai subjek paling berkuasa, lalu menganggap alam sebagai objek untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Akibatnya alam berhenti dipahami sebagai ruang kehidupan; ia direduksi menjadi sekumpulan sumber daya yang menunggu diekploitasi. Cara berpikir inilah yang perlahan memutus hubungan etis antara manusia dan alam.
Di sinilah gagasan Bruno Latour menjadi penting untuk dipahami. Latour mengingatkan bahwa krisis ekologis lahir ketika manusia membayangkan dirinya sebagai aktor tunggal yang dapat mengendalikan dunia.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar