Ekologi Konstruktif: Mengurai Kekerasan Lingkungan di Maluku Utara

Padahal bumi bukan panggung kosong tempat manusia memainkan perannya sesuka hati. Latour mengingatkan bahwa terdapat ketidakadilan jika kita masih memisahkan alam dan manusia.
Ia mengkritik keras warisan modernitas yang memisahkan antara alam sebagai wilayah objektif dan masyarakat sebagai wilayah subjektif atau konstruksi sosial (Robertus Robert, 2025).
Latour menekankan bahwa bumi adalah jaringan relasi yang mempertemukan manusia, hutan, laut, satwa, iklim, teknologi, dan bahkan pasar dalam suatu sistem yang saling memengaruhi. Ketika satu simpul dirusak, seluruh jaringan ikut terpengaruh.
Olehnya, membicarakan masa depan Maluku Utara sesungguhnya bukan hanya membicarakan nasib masyarakatnya, tetapi juga masa depan ekologi yang menopang kehidupan mahluk hidup di kawasan Wallace ini.
Karena itu, pandangan ekologi konstruktif tidak sebatas sebuah konsep konservasi, apalagi romantisisme untuk kembali ke masa lalu. Ia adalah upaya menyambung kembali hubungan yang telah diputus oleh paradigma ekstraktif.
Konstruktif berarti mengakui bahwa pembangunan adalah kebutuhan yang tidak dapat dihindari, tetapi pembangunan hanya memperoleh legitimasi ketika ia memperkuat, bukan melemahkan daya dukung ekosistem.
Dalam pengertian ini, pertumbuhan ekonomi bukan tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari kemampuan sebuah masyarakat menjaga keseimbangan antara produksi, keadilan sosial, dan keberlanjutan ekologis berjalan beriringan.
Alam tidak lagi ditempatkan sebagai biaya pembangunan, tetapi sebagai syarat agar pembangunan tetap mungkin berlangsung.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar