(Antara Kesalehan Spiritual dan Kesalehan Sosial Menurut Ali Saryati)
Makna Dzulhijjah

Akibatnya, lahir masyarakat yang individualistik dan kehilangan empati sosial. Dalam konteks itu, Dzulhijjah hadir untuk mengingatkan bahwa dihadapan Tuhan, manusia adalah setara.
Tidak ada superioritas kecuali ketakwaan dan kemanusiaan. Kesalehan spiritual yang sejati harus melahirkan kesadaran sosial yang egaliter.
Lebih jauh, ritual wukuf di arafah juga menyimpan pesan mendalam tentang refleksi kemanusiaan. Arafah adalah tempat manusia berhenti, merenung, dan menyadari keterbatasannya.
Bagi Ali Saryati, momen itu bukan hanya pengakuan dosa individual, melainkan kesadaran kolektif atas realitas sosial umat manusia.
Seorang muslim tidak cukup hanya menangisi dosa pribadinya, tetapi juga harus menangisi ketidakadilan yang terjadi disekelilingnya. Kemiskinan, kelaparan, korupsi, eksploitasi, dan penindasan.
Ali Saryati menafsirkan pengorbanan Nabi Ibrahim dan pengorbanan Imam Husian bukan sekedar kisah kepatuhan literal terhadap perintah Tuhan, melainkan simbol kekuatan, iman, dan keberanian berjuang melawan keterikatan material dan kekuasaan ego.
Manusia modern sering kali menyembah “berhala-berhala baru” berupa uang, jabatan, popularitas, dan ambisis pribadi. Lupa terhadap hakikat kesalehan spiritual dan hakikat kesalehan sosial.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar