(Antara Kesalehan Spiritual dan Kesalehan Sosial Menurut Ali Saryati)

Makna Dzulhijjah

Eid Al-Fatir

Ali Saryati melihat bahwa salah satu penyakit terbesar umat beragama adalah keterjebakan pada ritualisme kosong. Menurutnya, agama dijalankan secara rutin, tetapi kehilangan ruh pembebasannya.

Mesjid dipenuhi jamaah, tetapi kemiskinan tetap dibiarkan. Takbir dikumandangkan di mana-mana, tetapi ketidakadilan sosial dianggap hal biasa.

Dalam pandangan Ali Saryati, beragama seperti itu adalah bentuk alienasi spiritual, yakni ketika agama hanya menjadi simbol kesalehan pribadi tanpa menyentuh realitas sosial yang kongkret.

Dzulhijjah esensinya mengandung kritik terhadap cara beragama yang individualistik. Ibadah haji, misalnya, bukan hanya perjalanan spiritual menuju Ka’bah. Ia adalah simbol persatuan umat manusia.

Semua orang memakai pakain irham yang sama, tanpa membedakan status sosial, kekayaan, jabatan, maupun ras. Bagi Ali Saryati, irham adalah simbol penghancuran identitas kelas.

Ketika manusia mengenakan kain putih sederhana, ia sesungguhnya sedang menanggalkan ego sosial dan kembali pada hakikat kemanusiaannya.

Pengorbanan dalam Dzulhijjah memiliki makna yang jauh lebih luas dari pada sekadar menyembelih hewan kurban. Pengorbanan adalah kemampuan manusia untuk mengalahkan dirinya sendiri.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...