“Dibalik Angka-angka Sensus”

Oleh: Rizky Ramli, S.Sos
(Direktur Kajian sosial budaya Politika Institute)
Tulisan ini bukan laporan resmi Sensus Ekonomi 2026, juga bukan penelitian ilmiah. Tulisan ini hanyalah catatan pengalaman saya selama menjalankan tugas sebagai petugas lapangan. Apa yang saya lihat, dengar, dan alami di tengah masyarakat menjadi bahan untuk menceritakan sisi lain dari sensus yang jarang diketahui orang.
Melalui tulisan ini, saya ingin menunjukkan bahwa sensus bukan sekadar kegiatan mengumpulkan data. Di balik setiap angka terdapat kehidupan manusia dengan berbagai pengalaman, harapan, dan cerita yang tidak seluruhnya dapat dicatat dalam kuesioner. Itulah alasan tulisan ini diberi judul “Di Balik Angka-Angka Sensus.”
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Senin, 10 Agustus 2026
Selama hampir tiga minggu saya bertugas mendata tiga desa di salah satu kecamatan di Kabupaten Halmahera Selatan. Setiap hari saya berjalan dari rumah ke rumah untuk mewawancarai masyarakat dan mencatat informasi yang dibutuhkan dalam pendataan.
Hampir setiap rumah yang kami datangi menyimpan kisah yang berbeda. Ada yang bercerita tentang kebun yang tidak lagi menghasilkan, anak yang merantau karena sulit memperoleh pekerjaan, konflik dalam penyaluran bantuan beras dan bantuan listrik, hingga harapan agar suatu hari kampung mereka lebih diperhatikan oleh pemerintah daerah.
Percakapan-percakapan sederhana itulah yang membuat saya menyadari bahwa setiap angka yang nantinya muncul dalam laporan statistik belum tentu mampu mewakili kehidupan nyata warga yang di data.
Listrik, Jamban, dan Jaringan
Senin, 22 Juni 2026, menjadi awal perjalanan pendataan Sensus Ekonomi 2026 di beberapa desa di Kabupaten Halmahera Selatan. Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu lebih dari dua jam dengan menyeberangi lautan.
Setibanya di desa, aparat desa menyambut kami dengan baik. Sekretaris desa dan beberapa ketua RT membantu menjelaskan kondisi wilayah sekaligus mempermudah proses pendataan.
Sejak hari pertama, saya menemukan pengalaman sederhana yang memperlihatkan persoalan besar di balik pembangunan desa. Seluruh proses pendataan dilakukan menggunakan aplikasi digital melalui telepon genggam.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar