“Dibalik Angka-angka Sensus”

Rizky Ramli

Perusahaan Kayu dan Migrasi

Selain persoalan pelayanan dasar, percakapan dengan masyarakat juga banyak mengarah pada perubahan sumber penghidupan yang mereka rasakan dalam beberapa tahun terakhir.

Hampir setiap kali membahas kondisi ekonomi rumah tangga, warga selalu mengaitkannya dengan keadaan kebun yang tidak lagi memberikan hasil seperti sebelumnya.

Bagi masyarakat, kebun kelapa, pala, dan tanaman hortikultura merupakan sumber utama penghidupan. Dari kebun itulah mereka membiayai pendidikan anak, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan mempertahankan ekonomi keluarga.

Warga menceritakan bahwa sejak beroperasinya perusahaan pemanfaatan hasil hutan di sekitar wilayah mereka pada tahun 2006, kondisi lingkungan mulai mengalami perubahan.

Aktivitas penebangan kayu oleh PT Bela Berkat Anugerah (PT BBA), yang memperoleh izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam (IUPHHK-HA) melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 389/Menhut-II/2006 tanggal 12 Juli 2006 dengan luas konsesi sekitar 33.880 hektare, dipersepsikan masyarakat turut memengaruhi kondisi sungai dan kawasan perkebunan. *Perusahaan ini milik almarhum Benny Laos, suami Sherly Tjoanda Gubernur Provinsi Maluku Utara.*

Sejumlah warga menuturkan bahwa pada musim hujan, batang-batang kayu yang hanyut di sungai sering menghambat arus air hingga menyebabkan banjir di kawasan perkebunan.

Menurut mereka, banjir yang berulang kali terjadi mengakibatkan banyak pohon kelapa, pala, dan cengkih rusak bahkan mati. Bagi petani, kerugian tersebut tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat karena kelapa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali produktif.

Terlepas dari hubungan kausal yang masih memerlukan pembuktian ilmiah, pengalaman yang disampaikan masyarakat menunjukkan bagaimana mereka memaknai perubahan lingkungan sebagai penyebab menurunnya kemampuan ekonomi rumah tangga.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...