“Dibalik Angka-angka Sensus”

Rizky Ramli

Perubahan itu tidak berhenti pada kerusakan kebun. Dampaknya menjalar hingga pada cara rumah tangga menyusun strategi ekonomi. Ketika hasil kebun tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarga, masyarakat mulai mencari sumber penghidupan lain.

Sebagian tetap bertahan sebagai petani dengan hasil yang semakin terbatas, sebagian membuka usaha kecil, sementara yang lain memilih bekerja di luar desa. Pilihan terakhir menjadi kecenderungan yang cukup menonjol selama proses pendataan.

Saya menemukan banyak rumah tangga yang anggota keluarganya telah merantau ke Labuha, Ternate, Weda, bahkan ke luar Maluku Utara. Mereka bekerja sebagai buruh tambang, buruh pelabuhan, karyawan swasta, maupun di sektor jasa.

Penghasilan yang diperoleh kemudian dikirim kepada keluarga di desa dan menjadi salah satu penopang ekonomi rumah tangga. Dalam kacamata Bourdieu, perubahan tersebut menunjukkan bahwa arena sosial tidak pernah bersifat tetap.

Masuknya perusahaan, perubahan lingkungan, dan bergesernya struktur ekonomi desa telah mengubah aturan permainan di dalam arena.

Jika sebelumnya kepemilikan kebun menjadi modal ekonomi yang paling menentukan posisi seseorang, kini nilainya perlahan menurun karena tidak lagi mampu memberikan jaminan penghidupan seperti sebelumnya.

Migrasi akhirnya bukan sekadar perpindahan penduduk dari desa ke kota. Migrasi merupakan strategi sosial yang lahir dari perubahan struktur sosial.

Keputusan merantau tidak dapat dipahami hanya sebagai pilihan individu, melainkan sebagai cara rumah tangga mempertahankan keberlangsungan hidup ketika peluang ekonomi di desa semakin menyempit.

Bagi banyak keluarga, keberhasilan satu anggota keluarga memperoleh pekerjaan di luar daerah menjadi modal baru yang menopang kehidupan seluruh rumah tangga.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa angka-angka mengenai migrasi, penurunan pendapatan, atau perubahan jenis pekerjaan yang tercatat dalam sensus tidak pernah muncul dengan sendirinya.

Di baliknya terdapat perubahan lingkungan, kebijakan pengelolaan sumber daya alam, serta pergeseran distribusi modal di dalam arena sosial. Karena itu, membaca data sensus hanya sebagai kumpulan statistik tidaklah cukup.

Data tersebut perlu dipahami bersama konteks sosial yang membentuknya agar kebijakan yang lahir benar-benar mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. (*)

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...