FPIK Unkhair dalam Arus Besar Penyamaan Kurikulum Perikanan dan Kelautan Indonesia

Asmar Hi. Daud

Oleh: Asmar Hi. Daud
(Akademisi)

Maluku Utara adalah negeri kepulauan; ia bukan hanya provinsi dengan gugus pulau, melainkan mozaik kehidupan bahari. Lebih dari 70 persen wilayahnya berupa laut, dan mayoritas penduduk bermukim di pesisir serta gugus pulau yang terbentang dari Morotai hingga Obi, dari Bacan, Gebe, hingga Taliabu.

Dalam lanskap geografis dan sosial semacam ini, pendidikan tinggi tidak boleh hanya menjadikan laut sebagai objek studi. Laut harus menjadi ruang belajar utama bukan hanya bahan ajar, tetapi kelas itu sendiri.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Senin, 11 Mei 2026

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Khairun (Unkhair) hadir menjawab tantangan tersebut. FPIK tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga penggerak utama riset dan pengabdian berbasis pulau. Langkah ini sejalan dengan visi Universitas Khairun: “Maju Bersama Ilmu Berbasis Kepulauan.”

FPIK Unkhair menjadi fakultas dengan jumlah guru besar dan doktor terbanyak di lingkungan Unkhair. Ia juga mencatat produktivitas riset tertinggi berdasarkan indeks SINTA.

Nama-nama seperti Prof. Irvan (Budidaya Perairan), Prof. Aris (Biofarmakologi), Prof. Djanib (Bioteknologi Kultur Jaringan), Prof. Yuli (Kualitas Perairan), dan Prof. Najamuddin (Oseanografi) menunjukkan kedalaman dan keragaman keilmuan yang dimiliki.

Generasi akademisi muda seperti Dr. Riady (Engineering Kelautan), Dr. Irham (Teknologi Perikanan Pelagis), Dr. Nurhalis (SIG dan Penginderaan Jauh), Dr. Imran (Teknik Penangkapan Ikan), dan Dr. Darmianty (Teknologi Informasi Daerah Penangkapan Ikan) terus memperkuat jejaring ilmiah.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8

Komentar

Loading...