Indonesia dan Rusia Sepakati Proyek PLTN Terapung 200 MW
Malut Jadi yang Pertama di Dunia

Pasokan listrik pertama dari kedua unit ini diperkirakan mulai mengalir paling cepat lima tahun setelah ketentuan utama kontrak pasokan listrik berlaku efektif.
Murni Investasi Swasta Tanpa Beban APBN
Pengembangan PLTN terapung ini dirancang untuk mendukung upaya Indonesia mencapai ketahanan energi jangka panjang dan target netralitas karbon pada 2060. Menariknya, proyek ini tidak mengandalkan dana negara sama sekali.
“Penyediaan listrik yang bersih, andal, dan bebas karbon bagi masyarakat merupakan hal penting untuk menjamin masa depan energi Indonesia dalam jangka panjang,” kata Direktur PT Pembangkit Listrik Nuklir, Yudi Utomo Imardjoko, dalam keterangan pers yang disampaikan Rosatom pada Jumat (16/10).
Yudi menegaskan bahwa proyek ini berjalan sepenuhnya melalui skema business-to-business (B2B) yang mengandalkan investasi sektor swasta murni tanpa menggunakan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dukungan investasi swasta ini disambut optimistis oleh para pemangku kepentingan yang terlibat dalam proyek energi terbarukan dan ramah lingkungan tersebut.
“Proyek berkapasitas 200 MW itu diharapkan dapat mendukung kemandirian energi Indonesia serta mendorong pembangunan di Maluku Utara dan kawasan Indonesia Timur,” ujar Investor PT Pembangkit Listrik Nuklir, H Romo Nitiyudo Wachjo atau yang akrab disapa Haji Robert.
Haji Robert turut menyampaikan apresiasinya kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, delegasi Rusia, dan Rosatom. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto serta Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin atas kepercayaan yang diberikan untuk merealisasikan proyek PLTN terapung 200 MW di Halmahera Utara.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar