(Realitas Proyek Konstruksi Maluku Utara)
Bila Ilmu Mengalah pada Kegaduhan Opini

Namun, kritik yang sehat harus mampu dibedakan dari intervensi yang lahir dari ketidakpahaman teknis, terlebih ketika opini tersebut berubah menjadi tekanan yang menggerus profesionalisme dan keberanian mengambil keputusan.
Ilmu tidak boleh dikalahkan oleh kegaduhan, sebagaimana masa depan tidak boleh dipertaruhkan oleh ketidaktahuan. Dalam konteks Maluku Utara, semangat Marimoi Ngone Futuru hendaknya tidak berhenti sebagai semboyan, tetapi menjadi falsafah yang menghidupkan kesadaran bahwa masa depan daerah adalah tanggung jawab bersama.
Persatuan bukanlah keseragaman pikiran, melainkan kemampuan untuk mempertemukan perbedaan dalam ruang dialog yang bermartabat, tempat pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan komunitas keilmuan saling menguatkan dengan pengetahuan, etika, dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, penulis berharap Maluku Utara mampu membangun ekosistem pembangunan yang menghormati ilmu, memuliakan keahlian, terbuka terhadap kritik, dan teguh pada kebenaran teknis.
Pemerintah harus berani mengambil keputusan berbasis bukti, para profesional konstruksi diberi ruang menjalankan tanggung jawabnya, dan perguruan tinggi hadir sebagai penjaga nalar ilmiah. Dalam semangat kebersamaan dan persatuan, pembangunan hendaknya menjadi ikhtiar bersama untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik.
Sebab, infrastruktur yang baik bukan sekadar yang selesai dibangun, tetapi yang mampu bertahan menghadapi waktu, alam, dan perubahan generasi.
Biarlah ilmu menjadi cahaya yang menuntun arah, integritas menjadi pijakan yang mengokohkan langkah, kritik menjadi cermin untuk memperbaiki diri, dan persatuan menjadi kekuatan untuk melangkah bersama.
Dengan itu, pembangunan Maluku Utara tidak sekadar meninggalkan jalan, jembatan, gedung, dan berbagai karya fisik, tetapi meninggalkan jejak peradaban yang kokoh, bermartabat, dan memberi makna bagi kehidupan generasi hari ini maupun generasi yang akan datang.(*)

Komentar