(Realitas Proyek Konstruksi Maluku Utara)

Bila Ilmu Mengalah pada Kegaduhan Opini

M. Sudarwin Hasyim

1. Kompleksitas Geoteknik dan Rantai Pasok Kepulauan
Kerusakan konstruksi jalan di Halmahera, misalnya, tidak dapat dilepaskan dari interaksi berbagai faktor teknis, seperti daya dukung tanah dasar (subgrade), fluktuasi muka air tanah, karakteristik dan degradasi agregat lokal, serta kondisi lingkungan setempat.

Dalam perspektif Construction Supply Chain Integration (CSCI), ketepatan waktu dan keandalan distribusi material juga menjadi bagian penting yang dapat memengaruhi efektivitas quality control di lapangan, terutama pada wilayah kepulauan dengan sistem logistik yang rentan terhadap cuaca, jarak, dan keterbatasan konektivitas.

Karena itu, menilai suatu kerusakan atau dugaan kegagalan struktur hanya berdasarkan apa yang tampak di permukaan, tanpa menguji faktor-faktor teknis dan rantai pasok yang melatarbelakanginya, bukanlah pendekatan yang sejalan dengan prinsip dasar rekayasa yang menempatkan bukti, pengujian, analisis, dan standar teknis sebagai dasar pengambilan keputusan.

2. Dinamika Psikologi Organisasi dan Defensive Decision-Making
Ketika opini publik yang tidak ditopang data dan bukti teknis mendominasi ruang pembangunan, para pemangku kepentingan teknis, mulai dari PPK/Satker, konsultan, hingga kontraktor, dapat menghadapi tekanan psikologis yang mendorong mereka masuk ke dalam mode bertahan (survival mode).

Dalam perspektif perilaku organisasi Argyris dan Schön tentang organizational defense mechanisms, tekanan dan ketidakpastian yang berulang dapat mendorong individu maupun organisasi lebih berorientasi pada perlindungan diri daripada pembelajaran dan pemecahan masalah.

Akibatnya, keputusan yang semestinya diarahkan pada pertanyaan “apa yang paling tepat dan efisien secara teknis?” bergeser menjadi “apa yang paling aman secara administratif?”.

Pola defensive decision-making semacam ini berpotensi mengurangi keberanian berinovasi, menghambat keterbukaan dalam melaporkan kendala teknis, serta membentuk lingkungan kerja yang defensif dan kurang sehat.

Pada titik inilah tekanan opini tidak lagi sekadar persoalan komunikasi publik, tetapi dapat memengaruhi kualitas pengambilan keputusan dan pada akhirnya menghambat terciptanya pembangunan yang profesional, adaptif, dan berbasis keahlian.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Komentar

Loading...