Dari El Nino Ke Ancaman Bencana Hidrometeorologi
Adaptasi Menghadapi Ancaman Baru

Oleh: Gamal Hadi, ST., MPA.
(ASN BPBD Propinsi Malut)
Ancaman Bencana Hidrometeorologi di Maluku Utara
Setelah menghadapi periode El Niño dengan intensitas sangat kuat yang berdampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah, Menjelang penghujung tahun 2026 ini wilayah Maluku Utara akan memasuki perubahan pola musim menuju musim penghujan yang juga berarti menghadapi perubahan potensi risiko ancaman bencana hidrometeorologi.
Namun, persoalannya bukan apakah bencana akan terjadi, tetapi sejauh mana pemerintah dan masyarakat telah mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan ancaman tersebut.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 3 November 2026
Hasil Kajian Risiko Bencana (KRB) Provinsi Maluku Utara Tahun 2022–2026 memberikan gambaran bahwa provinsi ini memiliki kerentanan terhadap berbagai jenis ancaman bencana.
Dari 14 jenis bencana yang dikaji, terdapat delapan jenis bencana dengan risiko tinggi termasuk bencana hidrometeorologi: banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, abrasi, serta kekeringan.
Setelah El Niño, Mengapa Ancaman Banjir Perlu Diwaspadai?
Rilis data BMKG Maluku Utara pada tanggal 27 Oktober 2026 mengenai kondisi iklim dan proyeksi musim hujan menyajikan sejumlah informasi penting terkait perubahan cuaca dari musim kemarau menuju musim penghujan yakni untuk periode November 2026 hingga Januari 2027.
Prakiraan curah hujan di Maluku Utara secara umum didominasi kategori menengah. Namun, prediksi sifat hujan menunjukkan kondisi normal hingga atas normal, dengan kecenderungan atas normal pada Desember 2026.
Lima wilayah yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Selatan, Kepulauan Sula, dan Kota Tidore Kepulauan.
Ada satu fenomena yang perlu menjadi perhatian, yaitu potensi peningkatan limpasan permukaan ketika hujan berintensitas tinggi kembali terjadi setelah periode kemarau panjang.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar