Dampak Investasi Terhadap Hutan di Maluku Utara

Teknologi diskursif membangun narasi bahwa investasi adalah jalan menuju kesejahteraan sehingga kritik terhadap kerusakan lingkungan sering dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan.
Sementara teknologi koersif bekerja ketika muncul penolakan masyarakat melalui penggunaan instrumen hukum maupun tekanan administratif.
Jika teori Hartoto digunakan untuk membaca Maluku Utara, maka terlihat bahwa deforestasi bukan sekadar akibat pembukaan lahan, tetapi merupakan hasil dari sistem pembangunan yang secara bertahap mengubah hutan menjadi ruang akumulasi modal.
Paradoksnya terletak di sini. Semakin tinggi nilai investasi yang diumumkan pemerintah, semakin besar pula tekanan terhadap kawasan hutan.
Keberhasilan pembangunan lebih sering diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan ekspor mineral, sementara kehilangan hutan, meningkatnya emisi karbon, rusaknya daerah aliran sungai, dan berkurangnya ruang hidup masyarakat hampir tidak pernah menjadi indikator utama keberhasilan.
Masa Depan Hutan di Maluku Utara
Masa depan Maluku Utara tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang berhasil masuk, tetapi juga oleh kemampuan daerah ini menjaga hutannya.
Pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi pembangunan yang mengorbankan fondasi ekologis hanya akan menciptakan krisis baru pada masa mendatang.
Hutan bukanlah ruang kosong yang menunggu untuk dieksploitasi. Hutan adalah ruang hidup yang menopang kehidupan masyarakat, menjaga keseimbangan iklim, menyimpan keanekaragaman hayati, serta menjadi warisan ekologis bagi generasi mendatang.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan lagi "berapa besar investasi yang berhasil masuk ke Maluku Utara?", melainkan "berapa luas hutan yang masih mampu kita pertahankan?".
Sebab, investasi dapat datang dan pergi mengikuti dinamika pasar global, tetapi hutan yang hilang membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk kembali.
Jika pembangunan terus menjadikan hutan sebagai harga yang harus dibayar demi pertumbuhan ekonomi, maka yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukan hanya pohon-pohon di Maluku Utara, melainkan masa depan ekologis seluruh wilayah kepulauan ini. (*)



Komentar