Dampak Investasi Terhadap Hutan di Maluku Utara

WhatsApp Image 2026 07 15 at 13.04.57

Data tersebut juga menunjukkan bahwa kehilangan hutan terbesar berada di Halmahera Selatan, mencapai sekitar 86 ribu hektare, kemudian Halmahera Timur sekitar 61 ribu hektare, dan Kepulauan Sula sekitar 53 ribu hektare.

Wilayah-wilayah tersebut merupakan kawasan yang mengalami ekspansi kegiatan ekonomi berbasis pemanfaatan sumber daya alam.

Data dari Auriga Nusantara juga memperlihatkan bahwa deforestasi nasional kembali meningkat pada tahun 2024, dan kawasan timur Indonesia, termasuk Maluku Utara, menjadi salah satu wilayah yang menerima tekanan paling besar akibat ekspansi industri ekstraktif.

Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa deforestasi bukan lagi kejadian sporadis. Ia telah menjadi pola perubahan lanskap yang berlangsung secara terus-menerus.

Investasi Nikel, Politik Ruang, dan Deforestasi

Sulit membicarakan deforestasi Maluku Utara tanpa membicarakan investasi nikel. Permintaan dunia terhadap nikel meningkat sangat pesat setelah berkembangnya industri baterai kendaraan listrik.

Indonesia yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia kemudian menjadikan hilirisasi sebagai agenda pembangunan nasional. Maluku Utara menjadi salah satu episentrum utama kebijakan tersebut.

Masuknya investasi tentu membawa manfaat ekonomi. Lapangan kerja bertambah, infrastruktur berkembang, penerimaan daerah meningkat, dan aktivitas ekonomi tumbuh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Namun pembangunan tidak pernah bebas biaya. Setiap kawasan industri memerlukan lahan. Setiap jalan tambang membutuhkan pembukaan kawasan hutan. Setiap pelabuhan membutuhkan perubahan bentang pesisir. Setiap aktivitas pertambangan menghasilkan limbah, sedimentasi, serta perubahan sistem hidrologi.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...