Jalur Maritim, Geoekonomi, dan Politik Bebas Aktif

Indonesia dalam Pusaran Geopolitik Pasifik Barat

Fahri Sibua

Geoekonomi dan Dampak Domestik

Persaingan Pasifik Barat juga bergerak melalui nikel, tembaga, energi, pelabuhan, kabel bawah laut, pusat data, dan teknologi.

China berkepentingan mempertahankan akses terhadap bahan baku dan kawasan industri Indonesia, sementara Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Eropa berupaya mendiversifikasi rantai pasok dari ketergantungan kepada China.

Indonesia dapat memperoleh investasi, tetapi juga berisiko terjebak dalam ketergantungan modal, teknologi, dan pasar. Ketergantungan perdagangan memperbesar kerentanan tersebut. China menyumbang 22,40 persen tujuan ekspor Indonesia pada Januari 2025.

Gangguan jalur Pasifik Barat dapat menaikkan premi asuransi kapal, ongkos angkut, harga energi, dan biaya bahan baku. Dengan demikian, kapal tidak perlu diserang di perairan Indonesia untuk menimbulkan inflasi.

Peningkatan persepsi risiko saja dapat diteruskan kepada harga konsumen, nilai tukar, biaya industri, dan beban fiskal pemerintah. Kontestasi geoekonomi juga mengandung persoalan kedaulatan.

Investasi pada pelabuhan, kawasan industri, jaringan telekomunikasi, pusat data, dan kabel bawah laut tidak sepenuhnya netral. Infrastruktur tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap arus logistik, data, teknologi, dan keputusan ekonomi nasional.

Indonesia karena itu tidak cukup hanya menghitung nilai investasi, tetapi juga harus menilai asal modal, penguasaan teknologi, kendali data, dan potensi penggunaan ganda fasilitas strategis.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...