(Catatan Sepak Bola)

Jerman: Raksasa Eropa yang Terluka

Hudan Irsyadi

Larut dalam euforia sebagai juara bertahan ternyata tidak membuat Jerman digdaya. Masih dengan pelatih lama, Joachim Low dan sebagian besar pemain-pemain yang membawa Jerman Juara di Brazil, ternyata tidak memiliki dampak postif pada piala dunia tahun 2018 di Rusia.

Tim Panzer tampil melempem, dan jadi bulan-bulanan dari Meksiko dan Korea Selatan di fase grup. Jerman yang terkenal garang pun tidak lolos dari itu dan pulang lebih awal.

Harapan untuk bangkit sebenarnya datang di Piala Eropa 2020 yang digelar di tahun 2021 (covid-19), di mana pada fase grup Jerman sempat menundukkan Portugal, tetapi di fase gugur, tumbang dari tuan rumah Inggris.

Permainan Jerman terlihat membosankan, tanpa kreativitas, seolah tim yang di hadapi Inggris bukanlah Jerman yang banyak orang kenal, yang selalu tampil garang.

Tidak sampai disitu, pada piala dunia 2022 di Qatar, Jerman datang dengan pelatih terbaik Bundesliga, Hansi Flick. Pelatih yang dikenal cerdas dengan mengandalkan kedisiplinan tinggi serta taktik penyerangan sepak bola lansung (direct football) ke jantung pertahanan lawan, mejadi senjata pamungkas tim Panzer di Qatar.

Harapan masyarakat Jerman di tangan Hansi Flick untuk kebangkitan sepak bola Jerman, ternyata pupus juga di awal turnamen. Jerman hanya sampai pada fase grup. Kalah dari Jepang di laga pembuka seolah meruntuhkan semangat tim Jerman yang dikenal bermental baja itu.

Dua edisi piala dunia, 2018 dan 2022, sudah cukup membuat luka bagi timnas Jerman yang tersingkir dari fase grup. Adalah sebuah keniscayaan dari kedigdayaan tim Panzer yang dikenal sebagai salah satu raksasa sepak bola dunia.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...