Culture Ngopi Dari Interaksi Sampai Transformasi Sosial

Siti Nurhilda J S.Sos

Dulu, kopi telah menjadi minuman para sufi dan para sahabat, yang membuat mereka terjaga di malam hari. Imam Bukhari Ra. Pernah mengatakan bahwa begadangnya para ahli ilmu adalah membicarakan tentang ilmu atau membahas perkara keummatan yang tidak bisa ditunda esok harinya, dan dalam sejarah pun mengistilahkan kopi sebagai “Minuman Islam”.

Sejarah panjang tentang budaya ngopi di kafe sebenarnya sudah ada sejak zaman Kesultanan Ottoman tepatnya di abad 16. Kemudian dari sana mulai bermunculan kedai kopi di berbagai negara yang jadi tempat banyak orang menciptakan ide hingga membicarakan tentang revolusi.

Kebiasaan sosial yang ditimbulkan oleh meluasnya konsumsi kopi di kedai kopi di kota-kota kerajaan Ottoman. Lingkaran orang-orang yang mengobrol di sekitar tungku kopi membentuk filosofi hidup baru yang dijalin bersama oleh mereka yang terpikat oleh kenikmatan yang diberikan oleh minuman kopi ini.

Dari situ mereka membentuk jaringan sosialisasi budaya yang semakin komprehensif sehingga melahirkan proses sosialisasi yang menjangkau seluruh elemen masyarakat.

Menukil dari salah satu teori seorang sosiolog Jerman, Jurgen Habermas, bahwasanya ruang publik akan terjadi ketika antar individu saling berinteraksi tanpa ada intervensi atau sekat yang membatasi. Kedai kopi salah satu ruang publik yang mampu membawa iklim diskusi dan menghasilkan diskursus tanpa ada rasa menggurui.

Tak heran jika Revolusi Perancis berawal dari akumulasi ide di kedai kopi. Bermula dari seorang warga Italia, Francesco Procopio Dei Cotelli, mendirikan sebuah kedai di Paris tahun 1686.

Kala itu, kedai kopi milik Procopio (yang kemudian diberi nama Le Procope) hanya sekadar digunakan sebagai tempat minum dan berdiskusi santai. Lambat laun tempat ini terkenal sebagai wadah pencerahan setelah berbagai seniman dan intelektual sering berdiskusi disana. (Akyas Aryan. 2023).

Di negara Indonesia, Bung Karno merupakan salah satu tokoh revolusioner yang gandrung terhadap kopi. Sebelum berpidato, Soekarno menyempatkan diri untuk menengguk kopi tubruk yang panas nan pekat.

Dalam sebuah jurnal studi psikologi oleh (Maghfiroh, 2019) kafein dalam kopi memberikan stimulus pada otak, meningkatkan suasana senang hati, dan memberikan dorongan energi sehingga mengurangi risiko kelelahan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...