Culture Ngopi Dari Interaksi Sampai Transformasi Sosial

Siti Nurhilda J S.Sos

Tak heran jika berkesempatan berpidato, Bung Karno bak singa diatas podium. Kopi tubruk juga menjadi rahasia kesuksesan Bung Karno dalam proses lobbying politik.

Pada tahun 1950-an, Soekarno diundang oleh Josip Broz Tito, Presiden Yugoslavia, untuk menghadiri ramah tamah di sebuah nightclub. Bung Karno ditawari sebotol wine, namun beliau menolak dan lebih memilih kopi atau air jeruk hangat. (Akyas Aryan. 2023).

Budaya Ngopi.
Disini jelas, budaya “ngopi” mulai bergeser baik secara nilai fungsi menjadi nilai simbolik, yang tadinya kedai kopi atau kafe adalah selain terjalinnya silaturahmi antar sesama, sebagai ruang diskusi dengan berbagai keterbukaan pikiran, bahkan memiliki peran penting dalam era revolusi berbagai negara.

Kini, banyak yang menganggap kedai kopi atau kafe sebatas bersenang-senang dengan teman sebaya hingga menghabiskan waktu cukup lama di kafe dengan tidak membawa kesan secara produktif.

Mengutip dari Jurnal Sosioteknologi (Lina Meilinawati, 2020) menyebut orang-orang yang datang ke kafe atau kedai kopi itu untuk melakukan pekerjaan, bukan untuk menikmati kopi.

Jadi, mereka tak memerhatikan aspek kopi pada saat mereka datang ke kafe. yang datang ke kedai atau kafe tidak mempersoalkan jenis kopi, dari mana kopi itu berasal, dan tidak perhatian juga pada cita rasa kopi.

"Kafe adalah tempat untuk bersosialisasi, mendapatkan suasana berbeda (dari kantor atau tempat belajar) untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Ngopi adalah perilaku sosial untuk membangun atau mengukuhkan identitas seseorang dalam lingkungannya," tulis jurnal tersebut.

Kita tidak dapat menolak bagaimana media sosial memiliki dampak besar pada kehidupan manusia, dan kaum milenial sangat menghargai kesempatan yang diberikannya untuk menjadi kreatif dan ekspresif.

Di media sosial, mereka lebih mementingkan tempat yang indah dan unik daripada rasa kopinya, mencari tempat yang indah atau tempat yang Instagramable untuk mengambil foto dan mempostingnya. Lain halnya dengan para pecinta kopi yang biasanya tidak begitu memperdulikan tempat kedai tersebut karena mereka mementingkan cita rasa dari kopi yang disajikan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...