Catatan

Mari Mencintai Buku

Herman Oesman

Oleh: Herman Oesman
(Dosen Sosiologi FISIP UMMU)

"...masyarakat yang kehilangan tradisi membaca akan mudah dikendalikan oleh budaya hiburan yang dangkal..."
[Neil Postman, 1985 : 155].

BUKU, bukan sekadar kumpulan huruf yang dicetak di atas kertas, melainkan rumah bagi pengetahuan, pengalaman, imajinasi, dan kebijaksanaan manusia. Di tengah derasnya arus media sosial, reels (video pendek), dan banjir informasi digital, buku tetap menjadi pelita yang menerangi jalan peradaban.

Sejarah memperlihatkan, setiap lompatan besar peradaban selalu diawali tradisi literasi. Sebuah bangsa yang ingin maju tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam, tetapi juga harus membangun kekayaan intelektual melalui budaya membaca.

Perpustakaan menjadi pusat lahirnya ilmu pengetahuan, sementara buku menjadi medium yang menghubungkan generasi masa lalu dengan masa depan.

Karena itu, menyalakan semangat mencintai buku berarti menyalakan semangat belajar, berpikir kritis, dan membangun masyarakat yang berpengetahuan.

Pemikiran ini sejalan dengan pandangan Francis Bacon, dalam tulisannya, Essays, menyatakan, "Reading maketh a full man" - membaca menjadikan manusia utuh (Bacon, 1625 : 113).

Melalui membaca, seseorang tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga membentuk karakter, memperluas perspektif, dan mempertajam kemampuan berpikir. Buku memiliki kekuatan yang tidak dimiliki media lain.

Buku mengajak pembacanya berhenti sejenak, merenung, dan berdialog dengan gagasan. Berbeda dengan informasi digital yang bergerak cepat dan acap dangkal. Pada buku diajarkan kesabaran intelektual.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...