Catatan

Mari Mencintai Buku

Herman Oesman

Festival buku ini juga mendapat dukungan kolaboratif berbagai pihak, termasuk LP3ES, sebagai bagian dari penguatan gerakan literasi di Maluku Utara.

Benteng Oranje memiliki makna simbolik yang kuat. Dahulu benteng ini menjadi saksi sejarah perdagangan rempah dunia. Kini, benteng tersebut diharapkan menjadi saksi lahirnya perdagangan gagasan dan pengetahuan.

Bila dahulu kapal-kapal membawa pala dan cengkih ke berbagai belahan dunia, maka melalui Festival Buku 2026, Maluku Utara diharapkan mengirimkan karya-karya intelektual kepada Indonesia bahkan dunia.

Festival Buku Maluku Utara 2026 bukan hanya menghadirkan pameran buku, tetapi juga diskusi, peluncuran buku, ruang pelatihan menulis, temu penulis, penghargaan bagi pegiat literasi, hingga berbagai pertunjukan seni budaya.

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut bertujuan membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan dan melahirkan generasi pembaca sekaligus penulis.

Membaca dunia, harus diawali dengan membaca kata-kata. Karena itu, aktivitas menulis dan membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan tindakan memahami realitas sosial untuk melakukan perubahan.

Masyarakat yang rajin membaca akan lebih kritis dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan. Sebagaimana dikemukakan Neil Postman dalam karyanya “Amusing Ourselves to Death,” mengingatkan kita, masyarakat yang kehilangan tradisi membaca akan mudah dikendalikan oleh budaya hiburan yang dangkal (Postman, 1985 : 155).

Buku menjadi benteng yang menjaga kualitas berpikir manusia di tengah banjir informasi. Spirit mencintai buku berarti menghargai penulis. Setiap buku lahir dari perjalanan panjang riset, pengalaman, refleksi, bahkan pengorbanan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...