Catatan
Angkuh dalam Kelemahan

Oleh: Herman Oesman
(Dosen Sosiologi FISIP UMMU)
"...Besar hanyalah potensi, tetapi kemajuan membutuhkan kemampuan mengelola potensi tersebut..."
Pada berbagai kesempatan, bangsa ini, melalui pejabatnya, acap membanggakan dirinya sebagai bangsa besar. Memiliki wilayah kepulauan luas, jumlah penduduk besar, sumber daya alam melimpah, serta posisi geopolitik strategis.
Terkadang pula pejabat negeri ini menyebut diri sebagai negara maritim terbesar, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, dan salah satu kekuatan ekonomi yang sedang bangkit.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Senin, 6 Juli 2026
Namun ternyata, di balik kebanggaan itu, tersimpan sebuah paradoksalitas. Bangsa ini begitu terlihat besar dalam narasi, tetapi lemah dalam pengelolaan. Angkuh dalam simbol, tetapi rapuh dalam kapasitas. Bangga dengan ukuran, tetapi acap gagal mengelola kompleksitas yang menyertainya.
Ukuran sebuah negara, demikian disitir pemikir politik Francis Fukuyama (2013), tidak ditentukan luas wilayah atau jumlah penduduk semata, melainkan kapasitas negara (state capacity), yaitu kemampuan institusi publik menjalankan kebijakan secara efektif, profesional, dan berkelanjutan. Dengan konteks itu, persoalan utama bangsa ini bukan kekurangan sumber daya, melainkan lemahnya kapasitas pengelolaan.
Kita memiliki kekayaan laut yang besar, tetapi nelayan masih hidup dalam ketidakpastian. Kita memiliki cadangan mineral yang melimpah, tetapi daerah penghasil tetap tertinggal dan hidup dalam cengkeraman kemiskinan.
Kita memiliki ribuan pulau, tetapi konektivitas antarwilayah masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Kita angkuh membayar ini itu, tetapi ternyata menyimpan para perampok dalam sistem birokrasi.
Fenomena yang disebutkan di atas, menunjukkan, kebesaran tidak otomatis menghasilkan kemajuan. Besar hanyalah potensi, tetapi kemajuan membutuhkan kemampuan mengelola potensi tersebut.
Banyak negara demokrasi mengalami kesulitan bukan karena kekurangan legitimasi politik, melainkan karena kapasitas negara tidak mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang semakin kompleks (Fukuyama, 2015).
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar