Catatan

Angkuh dalam Kelemahan

Herman Oesman

Bangsa yang matang tidak dibangun dari pujian dan pencitraan, melainkan dengan refleksi kritis. Ia tidak sibuk membandingkan dirinya dengan negara lain untuk mencari pengakuan, tetapi fokus membangun kapasitas internal agar mampu menghadapi tantangan zaman.

Kapasitas negara, demikian ditegaskan Antonio Savoia dan Kunal Sen (2015), merupakan fondasi utama pembangunan ekonomi jangka panjang. Tanpa institusi yang efektif, sumber daya apa pun akan sulit menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Di era digital saat ini, kelemahan pengelolaan bahkan menjadi semakin terlihat. Dengan arus informasi bergerak demikian cepat, kebutuhan masyarakat makin kompleks, dan tantangan global makin tidak pasti, Negara yang tidak mampu membangun birokrasi profesional akan tertinggal, sekalipun memiliki sumber daya alam yang melimpah.

Bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan modal sosial maupun modal ekonomi. Yang acapkali kurang adalah konsistensi membangun institusi. Kita lebih mudah membangun proyek fisik daripada membangun budaya tata kelola.

Kita lebih cepat meresmikan gedung daripada memperkuat sistem. Kita lebih riuh merayakan pencapaian simbolik daripada memperbaiki kualitas pelayanan publik.

Tak heran, muncul paradoks yang terus berulang. Merasa besar tetapi sulit mengelola kebesaran itu. Merasa kuat tetapi rapuh menghadapi persoalan mendasar. Merasa kaya tetapi masih berkutat dengan ketimpangan dan kemiskinan.

Tantangan terbesar bangsa ini bukanlah bagaimana menjadi lebih besar, melainkan bagaimana menjadi lebih mampu mengelola dirinya sendiri. Kebesaran tanpa kapasitas hanya akan melahirkan kesombongan kolektif.

Sebaliknya, kapasitas yang kuat akan membuat bangsa mampu mengubah potensi menjadi kemajuan. Pada akhirnya, bangsa yang benar-benar besar bukanlah bangsa yang paling membanggakan dirinya.

Bangsa besar adalah bangsa yang mampu mengelola kekuasaan dengan baik, membangun institusi yang kuat, serta menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Tanpa itu semua, kebanggaan hanya menjadi gema kosong. Terdengar nyaring, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Di hari - hari ini, kita menyaksikan dan merasakan betapa bangsa ini terseok-seok akibat keangkuhannya. Ah, negeriku...(*)

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...