Catatan

Mari Mencintai Buku

Herman Oesman

Membaca sebuah buku berarti memberi waktu bagi pikiran untuk bertumbuh. Ditegaskan Mortimer J. Adler bersama Charles Van Doren dalam buku mereka How to Read a Book (1972), membaca bukan sekadar mengenali kata-kata, tetapi merupakan proses aktif memahami, menganalisis, dan mengevaluasi gagasan penulis.

Dengan begitu, masyarakat yang gemar membaca akan lebih siap menghadapi perubahan sosial yang begitu cepat. Sayangnya, budaya membaca di Indonesia, terlebih di Maluku Utara, masih menghadapi berbagai tantangan. Belum menjadi kebiasaan.

Kehadiran teknologi digital memang mempermudah akses informasi, tetapi belum sepenuhnya meningkatkan kualitas literasi.

Banyak orang membaca secara cepat tanpa sempat memahami isi bacaan secara mendalam. Karena itu, gerakan literasi hari ini harus mengembalikan buku sebagai sahabat kehidupan, bukan sekadar pelengkap rak perpustakaan.

Gerakan mencintai buku mulai menemukan momentumnya. Semangat membaca dan menulis terus tumbuh melalui berbagai komunitas literasi, taman baca, perpustakaan, sekolah, perguruan tinggi, hingga para penulis lokal yang produktif menerbitkan karya.

Perkembangan ini menjadi tanda bahwa masyarakat mulai menyadari pentingnya membangun peradaban melalui buku.

Semangat tersebut akan coba diraih melalui Festival Buku Maluku Utara 2026 yang akan diselenggarakan pada 7–9 Agustus 2026 di Benteng Oranje.

Festival ini dirancang sebagai ruang perjumpaan antara penulis, pembaca, akademisi, pelajar, mahasiswa, penerbit, pegiat literasi, serta masyarakat umum untuk bersama-sama merayakan budaya mencintai dan membaca buku.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...