Capaian Akademik, Kesempatan Belajar dan Keadilan Pendidikan

Pertanyaan yang Belum Dijawab Sistem
Menerima alasan dibalik kebijakan TKA bukan berarti seluruh persoalan pendidikan dan pembelajaran selesai dengan standarisasi pengukuran kompetensi akademik murid. Namun hasil tes kompetensi akademik yang didapatkan murid belum menjelaskan bagaimana capaian itu terbentuk.
Dibalik setiap angka yang didapatkan, terdapat proses belajar yang Panjang dengan konteks yang tidak selalu sama. Ketersediaan guru, dukungan fasilitas sekolah, dukungan keluarga hingga tantangan geogrfis yang dihadapi murid.
Disinilah kita perlu mengajukan berbagai pertanyaan-pertanyaan mendasar. Ketika dua murid memperoleh nilai yang berbeda, apakah perbedaan itu semata-mata menggambarkan perbedaan kemampuan dan usaha mereka, ataukah juga berkaitan dengan perbedaan kesempatan belajar yang mereka miliki?
Atau sebaliknya jika keduanya memperoleh nilai yang sama, apakah perolehan tersebut mencerminkan keduanya memperoleh kesempatan belajar yang sama? Demikian juga dengan data TKA.
Apakah data hanya digunakan untuk mengkomparasikan nilai murid, ataukah data tersebut benar-benar digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan pembelajaran, perbaikan layanan pendidikan, dan memastikan bahwa murid yang menghadapi keterbatasan memperoleh dukungan yang memadai?
Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan bukan berarti menafikan urgensi pengukuran kompetensi akademik murid. Namun pertanyaan ini diajukan hasil TKA tidak dipahami sebagai satu-satunya dasar untuk menilai mutu pendidikan.
Karena nilai TKA hanya menggambarkan capaian kompetensi murid, namun tidak memberikan gambaran secara komprehensif bagaimana proses dan kesempatan belajar yang melatar belakangi capaian tersebut.
Dengan demikian, tantangan pendidikan bukan semata-mata membandingkan kemampuan akademik yang dihasilkan, melainkan memastikan setiap murid memiliki kesempatan yang sama dalam mengembangkan kemampuannya.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar