Ilusi Raksasa Rp326 Triliun: Akankah Danantara Menjadi Temasek Indonesia atau Menuju Trap 1MDB?

Dr. Muhammad Kamal

Jejak pengambilan keputusan harus tersimpan sehingga dapat diaudit ketika muncul pertanyaan di kemudian hari. Sistem yang baik tidak bergantung pada asumsi bahwa semua pengelola selalu memiliki niat baik.

Profesionalisme dewan karena itu menjadi ujian paling konkret. Temasek menempatkan dewan sebagai pusat pengawasan strategi, investasi besar, divestasi, pendanaan, risiko, dan suksesi CEO.

Struktur dewannya juga menggunakan komite khusus dan akses informasi yang independen untuk menjalankan fungsi pengawasan. Model tersebut menunjukkan bahwa active ownership membutuhkan active oversight.

Danantara membutuhkan anggota dewan yang berani menolak keputusan investasi ketika risikonya tidak sebanding dengan pengembalian. Loyalitas utama mereka harus diberikan kepada mandat fidusia dan kepentingan jangka panjang modal publik.

Satu ancaman yang lebih halus adalah politisasi indikator kinerja. Ketika laba Rp326 triliun digunakan sebagai simbol keberhasilan, manajemen dapat memperoleh tekanan untuk terus menghasilkan angka yang lebih tinggi setiap tahun.

Tekanan seperti itu dapat mendorong pengambilan risiko berlebihan, penjualan aset untuk menciptakan keuntungan sesaat, atau penggunaan asumsi valuasi yang terlalu optimistis.

Institusi investasi jangka panjang tidak seharusnya dinilai berdasarkan satu tahun laba. Ukuran yang lebih relevan mencakup total shareholder return, produktivitas modal, kualitas arus kas, risiko portofolio, dan pengembalian jangka panjang setelah memperhitungkan biaya modal. Danantara harus berani melaporkan tahun buruk jika kondisi pasar memang buruk.

Keterbukaan terhadap kegagalan justru merupakan tanda kematangan institusi investasi. Tidak semua investasi Danantara akan berhasil karena investasi selalu mengandung risiko.

Pemerintah tidak perlu menjanjikan portofolio tanpa kerugian karena janji tersebut dapat mendorong manajemen menyembunyikan kegagalan. Yang harus dijamin adalah bahwa kerugian terjadi melalui risiko bisnis yang telah dihitung, bukan konflik kepentingan, manipulasi, atau kelalaian.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Komentar

Loading...