Ilusi Raksasa Rp326 Triliun: Akankah Danantara Menjadi Temasek Indonesia atau Menuju Trap 1MDB?

Dr. Muhammad Kamal

Setiap investasi baru harus melewati penilaian komersial independen dan skenario kegagalan sebelum modal dicairkan. Kecepatan investasi tidak boleh menjadi ukuran keberhasilan pengelolaan kekayaan publik.

Konsentrasi modal juga dapat menciptakan persoalan too big to fail. Jika Danantara mengambil posisi investasi yang terlalu besar dan proyek tersebut mengalami kesulitan, tekanan politik untuk melakukan penyelamatan akan meningkat.

Kerugian investasi kemudian berpotensi berubah menjadi kewajiban fiskal eksplisit maupun implisit. Kondisi ini dapat menghasilkan moral hazard karena pengelola memperkirakan negara tidak akan membiarkan institusi strategis gagal.

Batas eksposur, leverage, jaminan, dan konsentrasi sektor harus ditetapkan sebelum risiko tersebut muncul. Kedaulatan investasi tidak boleh dibangun dengan menciptakan kewajiban tersembunyi bagi generasi berikutnya.

IMF pada Juli 2026 mengingatkan bahwa perkembangan sovereign wealth funds global membawa risiko baru ketika mandat menjadi kabur dan saling tumpang tindih.

Institusi investasi negara yang berfungsi seperti otoritas fiskal paralel dapat mengaburkan utang publik, mengganggu transparansi anggaran, dan memperumit akuntabilitas. Peringatan tersebut sangat relevan bagi Indonesia karena Danantara membawa mandat investasi sekaligus mendukung agenda pembangunan strategis.

Setiap penugasan yang memiliki tujuan fiskal atau sosial harus dihitung secara transparan agar tidak tersembunyi dalam laporan investasi. Parlemen dan publik harus dapat membedakan investasi komersial dari pembiayaan kebijakan pemerintah. Pemisahan tersebut melindungi Danantara sekaligus melindungi kredibilitas fiskal Indonesia.

Transparansi utang menjadi bagian yang tidak boleh dinegosiasikan. Danantara dan perusahaan dalam portofolionya dapat menggunakan leverage untuk memperbesar kapasitas investasi, tetapi utang selalu membawa distribusi risiko antargenerasi.

Publik perlu mengetahui siapa yang meminjam, siapa yang menjamin, mata uang apa yang digunakan, dan siapa yang akhirnya menanggung kerugian jika proyek gagal. Jaminan silang antarentitas harus mendapat perhatian khusus karena dapat menyebarkan kegagalan satu proyek ke seluruh portofolio.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Komentar

Loading...